Senin, 28 Februari 2011
Setelah sempat beranjak ke angka + 200, kini harus bergeser kembali ke posisi kritis – 50.
Secepat mesin kasir menguras habis lembaran dan koin-koin, sayangnya saya tak menghabiskannya untuk itu. Karena sayalah sebatang tiang untuk beberapa pasak yang melintang. Setumpuk kertas-kertas tagihan sekecap menguras ke angka minus.
Sekarang hanya tinggal berharap, pada dering telepon yang memberi kabar dari setumpuk berkas yang memberi kepastian. Sebelum waktu terus menggeser ke angka minus lebih besar, atau paling tidak saya bisa kembali ke titik nol.
Optimis beradu pesimis, terkadang memang hidup hanya memberikan kesempatan kita untuk terus menggali lubang. Tetapi saya senang melakukannya sendiri tanpa harus melibatkan tangan orang lain.
Sekarang hanya tinggal berharap, pada dering telepon yang memberi kabar dari setumpuk berkas yang memberi kepastian. Sebelum waktu terus menggeser ke angka minus lebih besar, atau paling tidak saya bisa kembali ke titik nol.
Optimis beradu pesimis, terkadang memang hidup hanya memberikan kesempatan kita untuk terus menggali lubang. Tetapi saya senang melakukannya sendiri tanpa harus melibatkan tangan orang lain.
Latest Post
Senin, 14 Februari 2011
Air mata takkan habis, jadi berhentilah menangis…
by
livingmylife
Air mata takkan habis, jadi berhentilah menangis…
Saya punya banyak cara untuk membenci kehidupan ini, saya punya setumpuk kata dan redaksi untuk memaki ketidaksukaan, kekecewaan atas jalan dan kehidupan yang terpaksa harus dijalani. Ada banyak ocehan dan kata-kata kotor untuk bisa memuaskan kemurkaan. Saya pun memiliki perangkat teknologi yang bisa menyebarkan kejenuhan ini kemana-mana tanpa peduli siapapun, suka ataupun tidak suka.
Setelah itu saya puas? Ya terkadang saya puas, saya lega. Karena itulah mungkin cara untuk bisa melampiaskannya. Saya memiliki teman, tapi sayang jika kebersamaan harus diselimuti kesedihan, iba dan keluh. Mungkin ini hanyalah bentuk sederhana untuk menghargai mereka.
Kaki dan tangan saya boleh lelah. Tetapi air mata tak pernah bisa menyembuhkan, walau tak akan habis, mulailah untuk berhenti menangis.
Minggu, 16 Januari 2011
Kacang menyembunyikan kulitnya..
by
livingmylife
Kacang menyembunyikan kulitnya..
Jam menunjukkan pukul 12:00 siang, sudah lebih lima jam mereka berkumpul di tempat ini, masih ada lima jam lagi untuk hari ini agar kaleng yang berada disampingnya menjadi penuh. Masih lama untuk beranjak pulang, tangan mereka masih bergerak dengan cepat. Menekan sebuah alat sederhana menyerupai parang, sedang tangan yang lain menyelipkan dan menahan sebuah kacang mede dibawah bilahnya. Dengan sekali tekan saja, kacang itu sudah terlepas dari kulitnya. Demikian, satu-persatu, berkali-kali, dan secepat mungkin agar kaleng terus terisi dan bertambah berat dengan kacang bersih terkelupas. Dalam kaleng inilah, upah mereka tertampung, tak menghitung waktu yang telah dihabiskan.
Selasa, 11 Januari 2011
Sendu sejoli
Sendu sejoli
Saat darah dan daging ingin berpisah
darah teracuni kimia hingga liar mengalir
sedang daging, menjadi pucat bersama air mata
...
Saya hanya bisa terdiam melihatnya, putus asa..
sepertinya ini bukan dunia yang telah sepanjang hidup ku bersama
saya tak akan memilih di antara keduanya, mereka adalah saya..
Apapun yang terjadi...
Minggu, 09 Januari 2011
Yang tak mengalir di lenganku
Yang tak mengalir di lenganku
Keheranan diakhir tahun, saat tak satupun catatan bisa kutinggalkan. Terlena akan kehidupan baru di ketinggian, namun merintih di atas langkah tangga dan dingin ruang yang tak bersetara. Sebulan lebih ini, di atas tahta yang berarti.
Tak ada pilihan selain dengan cara ini kekuatan yang harus kukumpulkan untuk kedua lenganku. Lengan yang menahan tangan-tangan yang bergelantungan tanpa daya. Yah, baru tersadar mengapa tanganku begitu nyeri akhir-akhir ini. Istirahat, catatan inipun tak bisa kulanjutkan.
...

