Lagaligo, 8th - Pinko & Cherry



Mengejar sinar yang segera menenggelam, menyusuri jalan melintasi seluruh rangkaian cerita yang terisi selama waktu yang panjang ini. waktu yang kadang salah terhitung. Waktu dimana ada geli penuh tawa, waktu bersama sudut ruang tuk membungkuk dan sepi, waktu untuk hasrat terkurung-tersembunyi. Untuk iba dan haru, untuk obsesi dan ambisi dan waktu untuk adrenalin dan ketegangan.

Waktu dan tempat yang terikat oleh pita merah, symbol kecil bagi angka pertama menuju delapan. Di koridor tua, di pantai dan karang, tepi danau, jembatan, dermaga, tak ada ukiran nama disitu hanya ada pita merah yang tak kan pernah terlihat.

Pita merah yang belum pernah putus, karena masih panjang pita terbentang untuk ruang, sudut dan persinggahan selanjutnya.

Balkon di kafe kecil ini, kami kembali untuk mengikat lagi selembar pita, walau telah ada sebelumnya. Selalu tak ada lilin yang menemani sajian menu malam, juga tak ada cerita untuk gaun ataupun atap rumah yang indah kelak. Hanya ada setumpuk catatan untuk langkah kecil penuh semangat bagi mimpi dan dunia yang belum ada namun terbayang. Cerita tentang teman yang pernah datang dan pergi bersama langkah ini. cerita yang selalu terputus oleh detak waktu yang tak mau mengalah.

Malam itu tak ada patethic waltz atau senandung lain, seperti perjalanan yang pernah teringat. kami pulang memberi kabar dan senyum lebar.

Dari sepasang kasih yang telah lupa untuk kembali pulang.

Thanks, Pinko!

Cherry

5 agustus 2010




Latest Post
Selasa, 27 Juli 2010

Trip to Wajo #2 - Bukit hijau yang kering


Trip to Wajo #2 - Bukit hijau yang kering


Perbukitan dengan hembusan angin dingin, jagung bakar dan tuak yang masih segar dari pohonnya adalah kenyamanan hari kedua di desa Awota-kab.Wajo. Seandainya ada koneksi internet, mungkin ini akan menjadi status terbaru saya di FB. Untung saja sinyal tak menjangkau daerah yang dikelilingi perbukitan ini, sejenak tak perlu tertanggu dengan rutinitas manusia modern yang hanya bisa memamerkan kehidupannya dijejaring sosial.

Walau berada di tengah suasana yang berharga ini, sepanjang mata memandang ada yang hal lain mengamati keadaan yang membentang di sekitarnya. Perbukitan yang layaknya dihuni oleh pemukiman, ladang perkebunan ataupun hutan rindang, berbeda disini.

Sambil menikmati tuak dan terus mengunyah jagung bakar dari tongkol yang masih muda, mulailah si Bapak tua yang menjemput kami kemarin, bercerita tentang desa ini, dan mimpi mereka yang masih tertimbun di kawasan  perkebunan sawit yang terbentang sekeliling desa. Cerita yang kembali menemukanku pada kondisi yang sama di kawasan lain, dimana sumber kehidupan dicerabut bagi kepentingan industrialisasi dan gaya hidup sebagian orang.

8000 ribu hektar, kawasan yang dikuasi perusahaan sawit milik negara ini. Begitu hijau dari kejauhan, namun tak seperti hutan yang menyimpan  banyak kehidupan, ladang hijau ini hanya menjadi petaka bagi penduduk di sekitarnya. 

Sore itu, bukalah refresing bagiku dan beberapa orang mereka yang kembali melihat cahaya yang tampak dibalik bukit. Cahaya untuk kembalinya benih leluhur pada kehidupannya semula. Puluhan tahun hilang menjadi hamparan hijau yang kering, bersama senyawa dan hara yang terpendam.

Siang semakin terik namun panas menguap bersama hembusan angin yang berkibas. Bara masih terus menyala dan mengepulkan asap. Terik siang berlalu berganti redup sore, cerita yang tak pernah habis.

Kuharap saat kembali nanti, kutemukan api yang lebih membara di sudut sana.  Lalu tumbuhlah benih baru dan akar-akar yang akan terus menjalar, menyebarkan senyawa.  Aroma dari kehidupan kembali para leluhur.

Wajo- 24 Juli 2010

Trip to Wajo # 1


Trip to Wajo # 1

Ini perjalanan pertama di sebuah daerah di tengah utara Sulawesi Selatan. Belum ada yang menarik selain memang ini adalah kunjungan pertamaku di di daerah nan subur, yang katanya sesubur investasi dan industri datang mengekspansi...

Belum banyak cerita dan tidak ada view yang menyegarkan mata dalam perjalanan malam hari yang penuh ketengangan. Di lintasan cepat dan laju kendaraan super, seperti umumnya perjalanan  lintas daerah, saya hanya bisa kagum dengan si Pak supir. Entah mendapat indra ke enam dari mana, begitu gesit mengendalikan perjalanan saat penumpangnya hanya bisa kelehahan duduk dan tidur seenak hati.

"saya barusan bawa mobil dari mamuju, tiga hari ini belum ada istirahat cuma tidur tiga jam, makanya sedikit mengantuk" 

Tidak lama sesudah itu, kendaraan truk melintas dan nyaris menyambar mobil yang kami kendarai, suasana jadi tambah tegang tapi sedikit membuat pak supirnya kembali melek..huh..

Tegang, jalan sempit dan rusak, gelap dan sunyi dan tempat yang dituju tak juga terlihat tanda-tandanya, yah sudahlah namanya perjalanan. Apapun yang terjadi nantinya, siap-siap saja. Sugesti diri jadi penenang instan..

...

Cukup lama, terlihatlah Si Bapak tua di pinggiran jalan. Tak ada nama jalan ataupun bangunan penanda, hanya hamparan sawah di sekitarnya, si bapaklah satu-satunya penanda bahwa kami telah tiba, walau dia harus rela menunggu lama..

Walau hanya duduk berjam-jam tapi seolah tak ada daya lagi, merebah..menunggu pagi di sini, pagi yang tak akan pernah sama sinarnya di balik bangunan kota yang penuh suntuk...

...

Awota-Wajo, 23 Juli 2010


Selasa, 15 Juni 2010

Laju melaju


Laju melaju


Pukul duabelas malam, dia bagaikan cinderela yang harus segera berlari, sayangnya tak ada kereta yang menjemput dan mengantarnya pulang, tak juga ada sepatu kaca yang tertinggal bagi seorang pangeran.

Dia hanya terus berdiri di pinggiran jalan, sambil membayangkan kelak ia bisa mengayuh dan bisa menikmati pesta sepanjang malam. Karena pasti tak kan ada pangeran yang datang membawakan sepatu kaca dengan kereta cantik.

Ia hanya butuh dua buah kayuh, untuk laju yang tak dijangkau kakinya. Untuk mimpi yang terus menghidupkannya, untuk kemungkinan yang pasti datang. Menyela batas agar tak lagi diam, dan kendali yang ia tentukan. Dan tak ada lagi sungkan bagi kereta-kereta yang mungkin tak sudi untuknya.

Kayuh untuk terus berlari, untuk kekuatan yang tak akan pernah redup, berpesta sepanjang hari walau sebagian mereka memilih untuk cepat tidur…

Rabu, 26 Mei 2010

Today


Today

hari ini, saya tidak memposting sebuah tulisan khusus
hanya untuk kembali buka rumah kecil di dunia tanpa batas ini
bosan, hanya membuka jejaring sosial yang makin hari makin konyol
konyol, karena saya juga masih sukamembukanya, mengupdate status tidak penting, ganti foto profil, membaca kehidupan orang lain
atau mungkin kita sekarang memang adalah kaum infotainment ya
yeah...
so, hanya itu saja untuk hari ini....

+

Blogger templates

About Me

Foto saya
"Don't exist. Live. Get out, explore. Thrive. Challenge authority. Challenge yourself. Evolve. Change forever. It's time to be aggressive. You've started to speak your mind, now keep going with it, but not with the intention of sparking controversy or picking a germane fight. Get your gloves on, it's time for rebirth. There IS no room for the nice guys in the history books. THIS IS THE START OF A REVOLUTION. THE REVOLUTION IS YOUR LIFE. THE GOAL IS IMMORTALITY. LET'S LIVE, BABY. LET'S FEEL ALIVE AT ALL TIMES. TAKE NO PRISONERS. HOLD NO SOUL UNACCOUNTABLE, ESPECIALLY NOT YOUR OWN. IF SOMETHING DOESN'T HAPPEN, IT'S YOUR FAULT. Make this moment your reckoning. Your head has been held under water for too long and now it is time to rise up and take your first true breath. Do everything with exact calculation, nothing without meaning. Do not make careful your words, but make no excuses for what you say. Fuck em' all. Set a goal for everyday and never be tired." — Brian Krans (A Constant Suicide)

Blogroll

About


ShoutMix chat widget