Dunia hanya berhiaskan kabar buruk. Tak dapat dihindari dan hanya bisa dialihkan. layaknya kotak TV, tinggal menekan tombol untuk temukan kabar yang lain. Tidak demikian halnya dengan hidup, saat tombol telah kau pilih itulah langkahmu dan kau tak mampu kembali.
Pernah terpikir untuk kembali ke dalam ilusi, dimana jalan hidup adalah garis normal dan tidak terjadi sesuatu pun di sana. Namun saat kau memilih untuk tak menjadi sisipus, seolah beban baru datang dan kau tetap menjadi sisipus dibelahan lain. Penuh dengan beban sosial.
Sudahlah, mungkin aku hanya butuh tidur
dan terbangun untuk menyesalinya
paling tidak untuk melihat seberapa kuat aku terus berlari
tidak! aku tidak perlu berlari
........
Dia hanya ingin mengatakan....
Kembali buasnya malam itu. Sakit yang luar biasa di kepala, ditambahkan dengan hantaman martil di telapak tangan. Hingga malam ia terus meraung, meluapkan seluruh sakit, beban dan kebenciannya. Ia bertahan dan tak pernah ingin pulang.
Malam semakin larut dan meninggalkan diri di pinggiran jalan, menyadari diri, sampai berakhir luluh dan berat untuk akhirnya pulang.
Memasuki ruang gelap, merebahkan badan dan berusaha tertidur namun tetap saja ia beradu, lemas dan terkapar dengan sendirinya . Hingga pagi betapa tenang melihatnya terlelap , sambil berharap tak pernah lagi terbangun.
...
Hari ini, tanpanya ada hirupan kelegaan. Sore bersama hujan yang begitu lebat, memilih berjalan keluar dengan sebuah payung kecil, dan setelan hangat yang akhirnya bisa dikenakan. Tidak untuk menanti cahaya atau sinar dibalik awan, karena mendung dan tetesan hujan jauh meneduhkan. Yah, saat kibasan dari udara dingin menyentuh dan membekukan kesah. Menghirup nafas panjang tanpanya. Paling tidak untuk hari ini.
Tetapi kapankah ketakutan itu benar-benar pergi, dan mebuatnya tak meingkari janji? Hingga segala dapat berjalan layak? Sampai tak ada lagi kawat yang memasung kaki dan melllit kuat saraf-sarafnya. Lalu menemui dirinya dalam pose penuh warna ,bebas berpindah dan menentukan titik pijak selanjutnya. Hingga bebas mewarnai awan agar tak selalu putih, dan menyulap langit seluruhnya menjadi taman luas. Bebas mengikuti air dan mengisi segala lubang lalu terbawa entah kemana lagi.
Berulangkali diri meyakinkannya, dan mengaburi alur dalam kepalanya. Subjekfitasnya yang angkuh. Yang selalu menutupi bayangan nyata dalam kaca. Tetapi berulangkali ia gagal, dan menyerah untuk hanya berdiam menunggu apa yang akan terjadi nantinya. Walaupun tragis mungkin saja akan datang.
Berungkali ia ingin lari dari dunia sendirinya, dan menemui paling tidak sebuah telapak tangan yang menawarkan diri dan menariknya keras untuk benar-benar keluar menemui dunia dengan awan yang penuh warna dan taman di langit yang tanpa batas. Terbaring dan terdekap hangat bersamanya. Hingga dia dalam kebuasannya itu tak perlu lagi datang berteriak penuh keras untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan selalu... Dekapan!!
22: 23 wita
19 januari 2010 bersama deras hujan
Ilusi dan sesal tak pernah lebih baik
Pinggiran kota, di sebuah kawasan pesisir yang kumuh. Pertemuan sore itu, berkumpul ibu-ibu pencari kerang yang kini bersiap beralih peran setelah tempat mencari mereka tergusur oleh revitalisasi dan desakan proyek-proyek pembangunan .
Hadir di antara mereka, menimbulkan sebuah perasaan miris yang sejak lama tertanam sebuah kebencian. Bukan miris atas kemiskinan mereka, bukan pula karena ancaman yang akan mereka hadapi nantinya. Menafikkan rasa iba atas demikian , ada sesuatu yang membuat saya tak betah dan terganggu. Hampir di setiap sudut kota ini, hal tersebut selalu saja kutemui.
Kukeluarkan selembar kertas, hendak menuliskan daftar hadir di pertemuan saat itu. tak lama kemudian satu persatu ibu-ibu tersebut mendekat. Masing-masing mereka menyebutkan namanya. Tak sempat kutuliskan seluruhnya, ibu lain datang bersamaan dan menawarkan pula nama-nama mereka, bahkan nama-nama yang tak hadir saat itu di tawarkan pula. saya mulai kebingungan, merasa sedikit aneh. Ada apa dengan ibu-ibu ini? seantusias ini mereka mengelilingi saya.
Pertemuan di mulai,sebuah sosialisasi singkat atas kondisi pesisir dan antisipasi akan ancaman kedepan di wilayah tersebut dampak sebuah pertalian erat birokrasi dan kapital .
Saat pertemuan tersebut berlangsung seorang teman berbisik. Sedikit akhirnya saya tahu, tingkah ibu-ibu itu yang sepanjang pertemuan tak membuat saya nyaman.
Satu lagi kutemukan alasan, Kemuakan atas tatanan yang teramini dan tereproduksi secara terus menerus. Sistem yang mengakar di seluruh linih kehidupan bahkan di dalam watak para korbannya. Seperti watak para ibu yang hadir sore itu, watak mereka yang telah terselubungi tendesi nominal. Tak bisa disalahkan.
Bermukim daerah empuk investasi dan sirkulasi modal dalam kehidupan kumuh yang dimiskinkan. Lalu desakan peradaban yang tak bisa dimbangi serta hasrat atas impian yang selalu injeksikan dalam hiperealitas. Celah yang mudah bagi sejoli birokrasi dan kapital meluluhkannya. Masuklah lembaga-lembaga pemberi harapan, seolah membawa titik terang atas problem mereka, senilai nominal adalah deal tanpa tawar menawar. Satu persatu mereka datang , perlahan dan pasti menyisipkan watak "tangan menengadah". Akhirnya terbentuk dan tertanam bagi para korbannya,tereproduksi terus menerus.
Tahun ini, di pesisir pantai ini akan dibangun proyek megastruktur, ambisi latah pemerintah. Menyulap kawasan kumuh menjadi negeri impian setelah membangun sebuah pusat permainan termegah. Tempat bermukimnya para nelayan-nelayan pencari kerang, yang kini semakin berkurang oleh hilangnya tempat mencari, akibat penimbunan besar-besaran pesisir pantai. Entah seperti apa kehidupan mereka selanjutnya, setelah transaksi diterima setelah sebagian pula telah dipersiapkan menjadi buruh-buruh industri.
Mungkin tak lama lagi, kehidupan kampung ini akan benar-benar lenyap, sayangnya watak yang tertanam telah mendarah daging...
Mengalah
Malam ini, dari seluruh kelelahanku. Menjalani hidup yang ingin kutemui keindahannya walau harus memicu adrenalin dan meresap energy tubuhku. Ku mulai kembali catatanku ditemani syair dan nada yang menarik kembali waktu-waktu lama yang terlewati . Entah rasa apa yang kutemukan saat ini, saat merinding mengingat dan membayangkan saat – saat yang luar biasa.
Akhirnya kutemukan waktu bersama diriku, kuluapkan seluruh emosi tak pernah bisa kukendalikan. Kuluapkan dalam ketenangan , kuhargai , kumanca , kubantu bernafas dengan tenang, kubiarkan terdiam dan kulinangkan airmatanya yang tertahan oleh kekuatan.
Malam ini , ku membawanya berpetualang , mengendarai alunan-alunan nada lembut, kutembuskan waktu ke tempat yang dirindukannya.
kubawa ia berayun di bawah pohon tua di halaman luas, dimana sungai besar terbentang dihadapnya. Sungai tenang yang telah menenggelamkan tubuhnya yang berusaha berteman , namun hidup menariknya kembali.
Iya terus berayun, menikmati angin yang terus mengibas rambutnya. Kulihat lapang dan kelegaan, kulihat kepolosan, padanya kulihat kembali..
Ku terus diam memandangnya, ia tak pernah berbalik sama sekali..
Ia tetap tinggal , menjauh, bertahan untuk tidak melangkah pada hidup yang akan dilaluinya..
Aku ”waktu” mengalah untuknya ...
Hari ini telah kugunakan hak pilihku…
I chose nothing. I was born and this is what I am (‘troy’,2004)
Memilih untuk tak pulang ke rumah dan menghabiskan siang malam di tempat yang kuinginkan
Kugunakan hak pilihku, menyendiri di sebuah ruang kecil yang baru saja didekorasi sangat bersih dan nyaman dengan beberapa fasilitas baru yang sangat mendukung.
Kumemilih duduk di atas kursi tua di dekat jendela sambil menikmati kopi dan membaca sebuah buku yang kupilih dari sekian buku yang bertumpuk di perpustakaan. Aku bebas memilih dari mana dan bagaimana aku membacanya, aku tak perlu membacanya dari awal, tinggal kubuka daftar isi dan kupilih halaman yang kuanggap menarik atau penting kubaca. Saat kehilangan mood, aku bebas menentukan jeda untuk menatap keluar menyaksikan kendaraan berlalu lalang yang tak seramai biasanya.
Aku masih tetap memilih. Kupilih membuat minuman dingin, pas sebagai teman dalam cuaca yang cukup panas siang itu. Kuambil laptop kecilku, membuka beberapa file lama dan kuselesaikan beberapa tulisanku yang tak berusai. Ku memilih kata yang tepat agar terangkai menjadi kalimat yang sesuai dan akupun bisa memilih menghapus sesuka hatiku kalimat tak perlu walaupun akhirnya aku masih bebas memilih untuk tak melanjutkannya, saat aku kehilangan ide-idenya.
Setelah itu, tetap saja aku masih bisa memilih. Baring di atas busa dengan sprei yang baru saja diganti, sangat nyaman meregangkan otot leher yang tegang dan mengistirahatkan mata yang telah sayu. Kupilih posisi tidur yang baik, walaupun suara nyamuk melintas di telingaku kumemilih untuk tak peduli . Kubiarkan laptopku terus menyala dan memutar beberapa lagu kesukaanku.
Hari semakin gelap, tubuh masih terasa lemas untuk terbangun, mata telah merasa cukup terpenyam. Kumemilih hanya berbaring diam, melamun kulewatkan sampai akhirnya kumemilih melawan rasa lemas itu dan terhentak membangunkan diri.
Selanjutnya aku masih punya waktu tuk memilih dan memilih. Makan, minum, baca, mengetik , mengutak –atik, dan memilih diam semua dapat kulakukan hari ini. Hari dimana jutaan orang memilih menggantungkan hidupnya kepada segelintir orang lewat ritual sekian menit saja,adalah sesuatu yang absurd bagiku. Aku memilih untuk tak menjadi bagian dengan mengulang kesalahan yang sama dimana sejarah telah membeberkannya dengan nyata.
Ya, inilah pilihan nyata bagiku…
8 Juli 2009...Di hari pemilihan umum
